PEMBAHASAN
1. Pengertian ujub
Ujub secara bahasa adalah membanggakan
(mengherankan) diri dalam hati (bathin), sedangkan dalam istilah diartikan
memastikan (wajib) keselamatan badan dari siksa akhirat.
ujub
artinya merasakan kelebihan pada dirinya tanpa melihat siapa yang memberikan
kelebihan itu. Ia adalah penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala,
jika nampak atsar/pengaruhnya kepada lahiriah seseorang seperti sombong dalam
berjalan, merendahkan manusia, menolak kebenaran dsb. maka yang nampak ini
disebut dengan kibr atau khuyala’ (kesombongan). Dan memang sebab
munculnya kesombongan adalah karena adanya ujub di hati. Ujub adalah salah satu
penyakit hati di samping hasad (dengki), kibr (sombong), riya’ dan mahabbatuts
tsanaa’ (mencintai sanjungan).
2. Hukum ujub
Ujub hukumnya haram dan termasuk
dosa-dosa besar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan
diri.” (terj. Luqman: 18)
Ada yang mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah
janganlah kamu alihkan rahang mulutmu ketika disebut nama seseorang di
hadapanmu seakan-akan kamu meremehkannya. Sedangkan maksud “orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri” adalah orang-orang yang ujub terhadap
dirinya dan membanggakan dirinya di hadapan orang lain. Bahkan sebagian ulama
ada yang memasukkan ujub ke dalam bagian syirk yang dapat menghapuskan amalan.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ikhlas terkadang
dihinggapi penyakit ujub. Siapa saja yang merasa ujub karena amal yang
dilakukannya, maka akan hapuslah
amalnya….”
3. Contoh ujub
Di dalam Al Qur’an disebutkan
kisah Qarun (lih. Al Qashsash 76-83). Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan
kepadanya harta yang banyak di mana kunci-kuncinya sungguh berat sampai dipikul
oleh sejumlah orang-orang yang kuat. Kaumnya telah mengingatkan Qarun agar
jangan bersikap sombong karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang
sombong, namun nasehat itu dijawabnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku
diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku", yakni kalau bukan
karena Allah ridha kepadaku dan Dia mengetahui kelebihan pada diriku, tentu aku
tidak diberikan harta ini (sebagaimana dikatakan Abdurrahman bin Zaid bin
Aslam). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Dan apakah ia (yakni Qarun) tidak
mengetahui, bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang
lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?” (terj. Al Qashshas: 78)
Qarun terkena penyakit ujub dan sombong. Suatu hari ia
keluar kepada kaumnya dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan para
pengawalnya untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya, maka Allah
benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi akibat kesombongannya.
4. Macam-macam ujub
Ujub bisa menimpa ilmu, akal dan
ra’yu/pendapatnya, harta, kekuatan, kemuliaan, penampilan, ibadah dsb.
·
Menimpa ilmu, misalnya seseorang merasa sudah banyak
ilmunya sehingga tidak mau menambah lagi, atau membuatnya meremehkan ulama.
·
Menimpa akal dan pendapat, misalnya ujubnya orang-orang
filsafat dengan akalnya. Mereka mengira cukup dengan akal, semuanya bisa
dijangkau, termasuk hal ghaib. Dan ujubnya ahlul bid’ah, mereka menyangka bahwa
cara ibadah yang mereka adakan lebih baik daripada yang disebutkan dalam Sunnah.
·
Menimpa harta, misalnya seseorang merasa sudah banyak
hartanya, akhirnya ia bersikap boros dan berlebihan.
·
Menimpa kekuatan, misalnya seseorang merasa paling kuat,
seperti kaum ‘Aad, mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat daripada
kita?” akhirnya Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia dan
akhirat.
·
Menimpa kemuliaan, misalnya karena merasa sebagai orang mulia, membuat
dirinya malas bekerja dan enggan mengejar keutamaan.
5. Sebab-Sebab ‘Ujub
a. Faktor
Lingkungan dan Keturunan
Yaitu keluarga dan
lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai
dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan
keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang
dipuji, selalu menganggap diri suci dan sebagainya.
b. Sanjungan
dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan berlebihan
tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan,
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim:
وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقُ
صَاحِبَكَ
“Celakalah engkau,
engkau telah memotong leher sahabatmu”. (Muttafaq ‘alahi)
Seringkali kita temui
sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat
yang dipuji lupa diri. Pujian adalah fatamorgana yang dihajatkan oleh nafsu.
c. Bergaul
Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub.
Tidak diragukan lagi
bahwa setiap orang akan mengikuti tingkah laku temannya. Rasulullah SAW
bersabda:
“Perumpamaan teman yang
shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual
minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari Muslim)
Teman akan membawa
pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.
d. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah SWT
Begitu banyak
nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah SWT yang telah
memberinya nikmatnya. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ‘ujub, ia
membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah SWT
telah menceritakan kepada kita kisah Qarun:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ
عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي …..
“Qarun berkata:
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.
(Al-Qashash: 78)
e. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam
Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna
Pada hari ini kita
banyak mengeluhkan masalah yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran.
Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti
kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’.
f. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa
Daratan)
g. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan
Seorang insan terkadang
memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia
menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi
si Fulan sekalipun berkepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan.
Tidak ragu lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ‘ujub.
h. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan
Menghormati
Barangkali
inilah hikmahnya Rasul SAW melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri
menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah
bersabda:“Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka
bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, beliau
katakan: hadits ini hasan)
i.
Lengah Terhadap Akibat
yang Timbul dari Penyakit ‘Ujub
Sekiranya seorang insan
menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti
dirinya dan menyadari bahwa ‘ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia
tidak akan kuasa bersikap ‘ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda
Rasul:”Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat
bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai
Rasul, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal
yang dipakainya juga bagus?”
Rasul menjawab:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu
ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
(HR.
Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
6. Dampak ujub
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan,
sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
2. Dijauhkan dari pertolongan Allah.
sebagaimana firmannya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang berjihad (untuk
mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami.” (Al-Ankabut: 69)
3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai
krisis dan cobaan kehidupan
4. Dibenci dan dijauhi orang-orang.
Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan orang
lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan
membalas lebih baik kepadanya.
Allah berfirman:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا
بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau
balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)
5. Azab dan pembalasan cepat ataupun
lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan
atas sikapnya itu. Dalam hadits disebutkan:
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan
mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada
dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi
sampai hari Kiamat.”
(HR. Al-Bukhari)
7. Obat penyakit ujub
Untuk mengobati penyakit ujub di antaranya adalah dengan
berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit ini, menyadari kekurangan pada
dirinya, menyadari bahwa apa yang diberikan Allah berupa ilmu, harta, kekuatan
dsb. bisa saja dicabut-Nya besok jika Allah menghendaki, meyakini bahwa
ketaatan seorang hamba betapa pun banyak, namun tetap saja tidak dapat menyamai
pemberian Allah kepada kita, mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu
yang telah binasa, menyadari bahwa selainnya ada yang lebih utama daripada
dirinya dan mengetahui akibat buruk dari sifat ujub.
Tawaadhu’
Kebalikan dari sombong dan ujub adalah tawaadhu’.
Tawaadhu’ adalah merendahkan diri kepada Allah dan rendah hati kepada
hamba-hamba-Nya dalam arti bersikap sayang dan tidak merasa dirinya lebih di
atas mereka, bahkan melihat orang lain melebihi dirinya dalam hal keutamaan.
Tentang keutamaan tawadhu’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ
عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ
اللَّهُ
“Tidaklah
Allah menambahkan hamba-Nya yang sering memaafkan kecuali kemuliaan, dan
tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah Ta’ala akan
meninggikannya.” (HR. Muslim)
KESIMPULAN
Ujub adalah bahasa arab yang
pengertiannya secara umum adalah, membanggakan diri sendiri. Ahlak semacam ini
(’ujub) adalah sangat tercela, dan sama sekali tidak ada kebaikannya.
Ingatlah, semua kelebihan adalah anugerah dari Allah, oleh itu
kagumlah hanya kepada Allah, bukan diri sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."(Surah An-Nisaa', sebahagian ayat 36).
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."(Surah An-Nisaa', sebahagian ayat 36).
MOHON MAAF BILA ADA KESALAHHAAAAAAAAAANNNNNN YAAA,,,,PISSSS....!!!